Istri Sebagai kekasih

Jazakum Allahu khairan untuk akhwat filLaahi yang tekun menngikuti Kamus iniassalaamu'alaikum wa rahmat Allahi wa barakatuhualhamdulillah, ash shalaatu was salaamu 'alaa habibinaa wa qudwatinaa Muhammad ...Semoga jalasah ini menjadi sarana kita membina kepribadian kita, mendekatkan diri kepada Allah swtsiang ini saya akan teruskan kwartet kajian posisi Istri dalam kehidupan rumah tanggayang lalu kajian kita "Istri sbg Pembelajar",
silakan akhwat sekalian intip kajiannya di blog kamus http://kajian-muslimah.blogspot.com

Allah swt berfirman:
“Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allahtelah memelihara mereka” (al Quran, surat an Nisa:34)
Wanita shalihah adalah sebaik-baiknya perhiasan bagi seorang suami dalam kehidupan di dunia.
Setelah ketaqwaan, tidak ada kebaikan yang lebih besar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba mukmin, kecuali istri yang shalihah.


Mereka jika dipandang menarik hati. Senantiasa menjaga kehormatan dirinya dan suaminya.
Tutur katanya lembut menawan penuh ketaatan karena Allah semata. Penuh kesabaran menghadapi ujian kehidupan.

Mereka pelipur lara dikala duka. Kawan menyenangkan dalam keceriaan. Ketajaman jiwanya dapat merasakan kapan suami mereka berbahagia dan kapan dalam keadaan gundah gulana. Menjadi penyemangat selalu dalam menjunjung kebenaran.

Berbahagialah seorang suami yang mendapatkan istri shalihah. Ia adalah kekasih sejati. Akan sempurna kebahagiaan ini jika perannya sebagai suami, semakin mengokohkan peran istri sebagai kekasih sejatiSiapakah istri yang menjadi kekasih sejati?
Kekasih sejati itu ada pada ketaatannya kepada Allah dan sikapnya memelihara cinta kepada suami baik ketika berdekatan ataupun ketika berjauhan. Ini adalah cinta murni yang tak berkurang karena ruang memisahkan dan tak surut seiring berjalannya waktu.Cinta sejati hanya tumbuh jika disemai di atas ladang subur kecintaan kepada Allah ar Rahman.

Cinta yang tumbuh di atas iman. Dua orang yang saling mencinta karena Allah semata akan mendapatkan kelezatan iman. Pastilah ketentuan ini berlaku bagi pasangan suami-istri.(ada hadits yang menyatakan kelezatan iman akan diperoleh dengan 3 kondisi/syarat ... salah satunya mencintai saudaranya dengan landasan cinta kepada Allah saja)
Seorang suami memiliki peran penting dalam membantu menumbuhkan peran istri sebagai kekasih. Ia pun mesti menjadi kekasih sejati. Senantiasa memelihara hatinya untuk mencinta karena Allah semata.
Secara kejiwaan, ia mesti memelihara sikap lembut dan kasih sayang.

Senyum adalah shadaqah, maka istrinya menjadi orang yang paling berhak memperoleh senyum termanis yang ia miliki.Membantu orang lain adalah perbuatan mulia, maka istri adalah orang yang paling patut mendapatkan uluran tangannya.

Mendengarkan orang lain adalah sikap komunikatif terpuji, maka mendengarkan cerita suka dan gundah istri adalah realisasi kebaikan terindah dalam akhlak muslim. Sebaik-baik muslim adalah yang paling baik perilakunya kepada istri mereka.
(kalimat terakhir didasarkan pada hadits, "khairukum, khairukum linisaa-ikum"Berpenampilan menarik adalah bagian dari shadaqah seorang muslim buat saudaranya yang lain, maka berpenampilan menarik dihadapan istri adalah bagian dari shadaqah yang diutamakan.

Telitilah, pakaian seperti apa dan warna apa yang paling disukainya. Sebaliknya sampaikanlah penampilan mana yang paling disukai padanya.
Memberikan fasilitas baginya untuk merawat tubuhnya adalah bagian dari nafkah yang patut diberikan suami.(seperti kajian lalu, beberapa bagian kajian memang buat para suami ... silakan akhwat filLaahi jadikan sbg bahan dialog di rumah ... atau buat dijadikan refrensi mendapatkan calon suami yang shalih)
Ketajaman sensitifitas membaca suasana jiwa amat diperlukan dalam interaksi suami-istri.
Begitu kenalnya Rasul saw akan suasana jiwa istrinya, Aisyah, hingga beliau mengetahui kapan istrinya ini senang dan kapan marah, hanya dengan pilihan kata yang disebut sang istri.
“Jika kau senang kau pasti berkata ‘tidak demi Rabb Muhammad’, tapi jika kau marah kau berkata ‘tidak demi Rabbnya Ibrahim’ Aisyah hanya tersenyum dan menjawab,”Benar ya Rasulullah, aku hanya ingin menghindari menyebut namamu.”

“Jika kau senang kau pasti berkata ‘tidak demi Rabb Muhammad’, tapi jika kau marah kau berkata ‘tidak demi Rabbnya Ibrahim’ Aisyah hanya tersenyum dan menjawab,”Benar ya Rasulullah, aku hanya ingin menghindari menyebut namamu.
”Dalam bertutur kata, panggilah istri dengan panggilan sayang yang disukainya.
Nyatakanlah cinta kepadanya di banyak kesempatan secara tulus dan jujur. Ini bagian dari sunnah dari Nabi saw.
Diantara cara mengungkapkan cinta tanpa ucapan ‘aku cinta kamu’ adalah dengan pujian yang tulus.Rangkaian kalimat di bawah ini adalah contoh ungkapan verbal dalam memberitahu pasangan hidup kita akan kebaikannya. Beri tahukan keindahan yang patut disyukuri yang ada padanya. Ini akan meningkatkan rasa cinta kasih diantara suami-istri.
“Istriku tahukah, makin hari aku makin menemukan butir-butir mutiara kebaikan padamu. Ternyata kamu seorang yang lembut. Kamu mengerti kapan dan bagaimana cara mengingatkan aku saat semangat ini melemah.

Caramu mendengarkan luapan rasa senangku, sungguh membuat diriku berarti.""Aku tahu kamu begitu lelah memikul tugas di rumah dan di luar rumah. Namun kamu mengisahkan langkah-langkahmu menjalani segenap amanah da’wah ini dengan penuh suka cita.
Istriku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang melimpah.”tentu ada seribu satu cara mengungkapkan rasa kasih dan sayangbagi para muslimah, surprise kecil di rumah bisa menjadi wasilah perekat cintabelilah bunga melati, hiaslah kamar denganya ... insya Allah suami akan merasakan pesan-pesan kasih sayang

Akhwat filLaahi ... demikianlah pengantar kajian kita. Semoga pada sesi diskusi kita bisa perkaya materi ini.wa Allahu a'lamu bish shawwab

Beberapa pertanyaan dari peserta kajian :
--------------------------------------------------------

Pertanyaan ke 1:
----------------------
bagaimana menyikapi diri dg rutinitas kita sbg ibu rumah tangga, namun disaat yg sama kita harus bersikap lembut pd suami, terkadang sukar menahan amarah?
Jawaban:
------------
Bismillahirohmanirohim
memang segala yang nampak pada lahiriah kita adalah cerminan kestabilan atau ketentraman jiwa kita
kententraman jiwa lah yang akan membuat seorang istri dg tenang bisa memikul beban tugasnya
dalam term islam itu disebut "sabar"
sabar artinya: qudrotun 'alaa tahamul
kemampuan dalam memikul beban.. dalam hal bersikap lembut thd suami,
Tipsnya:
1. jaga suasana dzikr, sebab dg dzikr kpd Allah hati akan tentram
2. atur waktu dengan baik, jangan kepepet2 dalam mengerjakan tugas2 di rumah dan luar rumahadijm2001
3. jaga kondisi fisik yang sehat dan fit, bisa dg rutin olah raga atau senam
insya Allah akhwat filLaahi lebih siap mengatur jiwa dan hati dengan tubuh yang sehat dan fit
4. kalau memang cape banget, sampaikan pada suami bgm kondisi ukhti pada hari itu. mudah2an suami pun mengerti dan enggak ada mis-understanding dalam komunikasi di masa2 cape.

Pertanyaan ke 2:
----------------------
Assalamu`alaikum wr wb.Teringat ucapan Siti khodijah. yaitu belejar agar nabi Muhammad tetap Menyukai beliau. nah itu belajarnya gimana yah ustadz adi. sedangkan kita maseh jauh dari sifat Siti Khodijah. jazakhalloh sebelum dan sesudahnya ustadz?
Jawaban:
saya malah belum pernah baca khusus ttg kiat belajar Khadijah ra itu.
mungkin yang dimaksud adalah bagaimana Khadijah mengenal betul pribadi Muhammad semasa pemuda itu
pintar juga Khadijah ra ini (kalau enggak pintar mana mungkin jadi saudagar sukses)beliau mengangkat Muhammad menjadi wakil yang mengurus perniagaannya.
itu dijadikan sarana beliau mengenal pribadi Muhammad, tentu dengan meminta beberapa asistennya mengamati Muhammad.jadi pelajarannya: mengenal bagaimana sifat2 pria shalih yang hendak dipilih menjadi suami.
kedua, Khadijah memang telah matang secara psikologis
tentu akhwat sekalian ingat, bgm beliau menenangkan suaminya, Muhammad RasulilLaahi, tatkala bingung setelah mendapatkan wahyu awal
Jadi pelajaran kedua: matangkan kondisi jiwaa
ketiga: Khadijah itu sangat hanif, mendukung Islam dan mengorbankan harta dan waktunya untuk membela suaminya,dalam mendakwahkan risalah Islam
pelajarannya: jadilah istri yang mendukung suami all-out ketika suami mengusung misi kebenaran (kejujuran dll)

Pertanyaan ke 3:
-----------------------
ustadz bagaimana caranya menyampaikan kekesalan kita pada suami, misalkan ada yg ga cocok menurut kita, bolehkan kita mendiamkannya untuk beberapa saat(ga bicara )untuk bermaksud menjaga lisan agar ga keluar kata2 yg tidak diinginkan?
Jawbanan:

hmm ... kalau mendiamkan tanpa ada "pendahuluan" komunikasi, bisa jadi salah sangka

gini ya, saya suka dengan cara orang barat komunikasi di rumah (dalam masalah ini ya)
kalau pas suasana hati lagi keruh kita bisa bilang "hari ini hati sedang tidak terlalu nyaman. mas enggak keberatan kan kalau saya minta dibiarkan sendirian ..."

"please, let me alone, I need to contemplate a little bit" paling tidak dengan begini suami negrti ... dikit lah

cuma kondisi "ngambek" ini jangan membuat muslimah melupakan kewajiban yang biasa dilakukan,katakanlah untuk memasak seperti biasa. trus juga jangan kelamaan.

Pertanyaan ke 4:
-----------------------
Ikhwan yang sudah ngaji itu apa sudah bisa dikategorikan pria shalih tad ?karena gak semua ikhwan ngaji menurut saya mempunyai sifat yang bisa dikatakan seorang ikhwan.
Jawaban:
seorang itu mengaji (maksudnya punya forum rutin mengaji), itu menjadi salah satu parameter kebaikanyang berikutnya tentu bgm hasil mengaji itu, jadi parameter keshalihan itu tetap pada nilai-nilai Islam yang dikenal dengan baik.taat kpd Allah, suka menolong, sabar, ramah dll.

Pertanyaan ke 5:
---------------------
Saya mau nanya: tadi Ustdz bilang bhw kita hrs all out mendukung semua aktivitas suami, slma dalam koridor kebaikan. Namun seringkali akibat dari suami yg supersibuk, komunikasi jadi kurang sekali. bagaimana mengatasi hal ini?
Jawaban:

pertama, sebagai seorang istri mudah2an Allah swt memberikan kesiapan kepada akhwat sekalian untuk bersabar punya suami yang sibuk di jalanNya
(saya menulis artikel "Perempuan-perempuan Teguh" di Oase Iman Eramuslim, silakan menyimak jika ada waktu)
sebab ketika suami kita seorang yang aktif dalam kebaikan, insya Allah para istri akan memperoleh pahala yang besar juga, jika mendukung suami
bagaimana kalau kesibukan suami membuat komunikasi mengering
di sini barangkali seorang istri dituntut untuk kreatif memanfaatkan waktu yang sempit utk menciptakan suasana kondusif dalam berkomunikasi, ada waktu2 yang bisa dimanfaatkan
saat makan bersama, saat menjelang tidur ... atau suasana di kamar secara umum
apakah pernah mendengar kisah seorang shahabiyyah yang ketika suaminya bertempur di medan perang, mendapatkan anaknya wafat
ketika suaminya pulang shahabiyyah ini tak menceritakan kejadian wafat putra mereka
malahan sang istri berhias dengan baik dan malam itu memadu kasih dengan suaminya dengan indah.baru setelah itu sang istri menceriatakan perihal wafat itu, sang suami marah, lalu melaporkan kejadian ini kepada Nabi Muhammad saw.

apa reaksi Nabi, beliau memuji perbuatan shahabiyyah itu dan mendoakan semoga dari hubungan mereka semalam akan lahir keturunan yang shalih, dan doa Nabi ini tentu saja makbul
ada yang ingat nama shahabiyyah dan sahabat serta keturunan mereka berdua ini?jadi gitu ukhti ... mudah2an perenungan2 dari teladan wanita2 shalihah membuat akhwat sekalian lebih matang membantu suami yang sibuk

Pertanyaan Ke 6:
-----------------------

Gini ustadz.. untuk menjalani peran sebagai istri sbg kekasih.. tentulah kita perlu ada rasa "kecenderungan" ke suami apakah itu sayang atau cinta atau apalah.. Gini ustadz..buat yg blum menikah, kalau akhwat itu ditawari seorang ikhwan, dari seorang yg terpercaya (mr misalnya)..trus sama sekali tidak ada kecenderungan itu.. tapi sementara orang lain?takutnya kalau diawali tidak ada kecenderungan.. menjalani peran istri sbg kekasih itu agak sulit..mungkin kalau fisik dsj itu masih nomor sekian ustadz.. tapi kalau sifat gimana tuh ustadz.. susah sekali misalnya kalau dapat suami yang pendiam.. bisa mati kutu gitu ustadz.. sementara org2 bilagn dia sholeh dst dst...

Jawaban:
(kalau nama sahabatnya Abu Thalhah, saya ingat, nama shahabiyyah nya bukan ummu sulaim, sebab ummu sulaim tidak menikah dengan Abu Thalhah tapi dengan Abu Salamah dan lalu dengan RasulilLaahi Muhammad, setelah Abu Salamah gugur dalam perang)jadi masalah fisik, ketampanan dll itu sah menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan,sama juga seorang lelaki perlu mendapatkan "sinyal" rasa suka kepada calon istrinya

ini ada atsar-nya ... ketika seorang sahabat menyatakan ingin menikah dengan seseorang, Nabi saw bertanya, sudahkah dia melihat calonnya,ketika dia menjawab belum, Nabi menyuruhnya melihat dulu,so, baik. jadi masalah fisik itu boleh menjadi pertimbangan.

yang mesti diperhatikan adalah konsideran fisik ini tidak ditempatkan di atas parameter agama dan akhlak
kecocokan sifat dll itu bisa dikomunikasikan.hanya mungkin saran saya, mudah2an akhwat sekalian tidak "terjebak" dengan sifat2 sekunder ... hingga melupakan hal-hal yang primer

enggak bisa dapet yang pendiam ... mungkin calon suami kelak bisa agak "rame" dikit
ada satu rumus Qurani dalam hal interaksi ini "bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian suka dengan sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kalian"tapi sekali lagi, di masa-masa perkenalan (ta'aruf) masalah sifat masing2 dll, bisa dikomunikasikan

ini ada sedikit tambahan
salah satu rasa indah yang bisa dirasakah hati adalah ketika hati bisa bertawakkal kepada Allah swt
tawakkal sendiri artinya menyerahkan urusan kepadaNya sepenuh hati, setelah didahului dengan ikhtiar kita.
jadi kalau kita sudah berihtiar dalam berkenalan, saling mengkomunikasikan sifat dan cita-cita ... setelah itu serahkanlah urusan kepadaNya

Pertanyaan ke 7:
-----------------------
ustadz, bgmn membedakan perasaan menyegerakan dan tergesa-gesa untuk menikah? [out of topic ga?]

Jawaban:
(terima kasih atas tambahan ayat Quran: setelah berazam, mka bertawakkalah ... 'azzam ini dibangun dengan pengetahuan dan wawasan yang mantap, hingga melahirkan tekad dan lalu 'azzam))

menyegerakan itu adalah setelah semua persyaratan kesiapan menikah ada, maka segera melangkah
tergesa-gesa itu, kalau persayaratan masih belang bentong, tapi udah pengen buru-buru ... (buru2 = tergesa2 ya?) jadi ukurannya pada penyiapan diri agar siap untuk menikah. singkatnya: siap ilmu, siap jiwa, siap fisik, dan (khusunya buat pria) siap finansial.

Pertanyaan Ke 8:
------------------------

btw, mengenai pasangan yang "menyusahkan", ada seorng ustazah di acara televisi di tanah air yang dalam setiap curhat pemirsanya yang curhat suaminya begini-begitu, selalu meminta untuk bersabar saja, menerima saja karena balasannya di surga nanti. Menurut ustadz bagaimana ya kalau seorang istri mendapatkan pasangan yang menyusahkan, haruskah seperti itu? sabar untuk nanti mendapat surga? bukankah boleh seorang istri mengambil langkah

Jawaban:
------------
kita sepakat sabar itu adalah salah satu sifat Islami yang mulia,balasan sabar itu tiasa batas; Allah cinta orang yang sabar dll,tapi nih. sabar itu tidak sama dengan pasrah, ini salah kaprah bahasa Ind,tadi saya sampaikan ash-shabru: qudratun 'alaa at-tahaamul. kemampuan memikul beban

bahkan sebagian ulama menyebutkan: ash shabru mazhaahiru al-quwwah,sabar itu adalah perwujudan dari kekuatan,karenanya sabar itu proaktif.untuk kasus suami menyusahkan istrinya, tentu mesti dikupas "menyusahkan"nya itu bgm?kalau sampai melanggar kewajiban suami thd istri (akan menelantarkan hak istri), atau bahkan sampai menyakiti fisik istri ... tentu ada aturan islam yang mengatur, dalam hal ini membela sang istri. jadi mungkin kita mesti teropong maksud "menyusahkan" di sini ya.
Share this article :
 

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MENJADI PRIBADI YANG BERMANFAAT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger